most popular

Selasa, 15 November 2011

Pesan dari Tanah Putih



Aku tak mengerti tentang arti masa abu-abu putihku selanjutnya. Fikirku kacau, kelam. Aku bahkan tak mengerti bagaimana dan kenapa aku berada disini. Samar-samar masih kudengar tawa teman-teman, suara lantang mereka memanggilku kembali bergabung untuk menggoreskan kenangan manis sewajarnya seorang siswi SMA. Aku menatap ke langit-langit ruangan ini. Berbagai alat penunjang hidup ini sepertinya yang menyadarkan dimana keberadaanku sekarang. Mungkin rumah sakit. Namun tak kudapati seorangpun ada dalam ruangan ini. Tak selayaknya di rumah sakit, dimana keluargaku yang seharusnya menungguku di samping ranjang hingga aku sadar? Aku semakin bingung dengan apa yang terjadi. Dimana Billy si usil? Dimana papa? Dimana mama? Aku merasa sangat rindu kepada keluarga kecilku itu. Kemana sahabat-sahabatku? Dan tentunya dimana Radin? Aku menyayanginya. Sulit untuk menata kekacauan kepingan puzzle yang sudah ku bentuk. Kekacauan itu memudar, perlahan aku ingat apa yang telah terjadi. Aku mengubah posisiku. Kini aku duduk, melepas segala peralatan penunjang hidupku yang mungkin sudah berminggu-minggu menempel ditubuhku. Sakit tentunya, sangat sakit. Namun tidak ada bandingnya dengan sakitku secara psikologis. Darah menetes dari tanganku, dimana selang infus yang tadinya tertancap di nadiku untuk mentransfer cairan ke tubuhku baru saja kulepas secara paksa. Aku mengusap perutku dengan lembut. Peluhku luruh tanpa penghalang. Mataku memandang penuh penyesalan. Tatapanku kosong, teringat masa abu-abu putihku, berbagai peristiwa terlintas, tawa canda, cinta..atau lebih tepatnya cuma nafsu belaka yang membuatku terpaksa terjun ke dunia kelam, hingga aku harus drop out dari sekolah dan menanggalkan masa remajaku. Masih teringat suatu peristiwa yang menyeretku ke ruangan serba putih ini. Radin, kekasihku yang tidak bertanggungjawab itu pergi meninggalkanku, andai dia mengerti seberapa besar rasa cinta yang aku jaga untuknya. Aku fikir semua akan baik-baik saja. Kami mengerti, ini salah kami. Aku masih ingat ketika aku berkata kepadanya bahwa ada seorang calon bayi mungil dalam kandunganku, dia mengatakan bahwa dia akan tetap menyayangiku. Walau awalnya aku nekat untuk memusnahkan calon bayi kami, namun Radin-lah yang meyakinkanku. Bahkan ia berjanji akan bertanggung jawab atas accident kami ini. Radin memelukku ringan dan mencium keningku. Di penghujung senja itu aku memutuskan bahwa aku juga akan tetap mencintainya dan tentunya Radin kecil yang ada dalam kandunganku.
Mungkin beberapa minggu setelah itu aku sangat sulit untuk berkomunikasi dengan Radin. Usia Radin kecil masih 72 hari, ini masih memungkinkanku untuk membawanya ke sekolah. Sekali dalam waktu itu aku bertemu dengannya,ia bersikap aneh padaku, masih terukir jelas difikiranku, matanya merah, menarik lenganku kasar menuju belakang aula. Tempat tersebut cukup sepi, matanya memandangku tanpa bisa kubaca artinya. Aku menarik satu tangannya yang lain dan meletakkannya di perutku. Saat itu cengkraman tangannya yang cukup kuat melemah. Radin memelukku erat tak seperti biasannya dan mencium Radin kecil kita. lalu ia berkata bahwa Tuhan akan menjemputnya atau dia yang akan menghampiri Tuhan. Aku menarik tubuhnya mendekat, Radin akan meneruskan kata-katanya namun aku menahan bibirnya dengan telunjukku. Dia kembali membenamkanku dalam peluknya dan berbisik tepat di telingaku bahwa jam pelajaran selanjutnya ia akan meninggalkan kelas, entah pergi kemana. Dia tak menjawab berbagai pertanyaanku. Setelah saat itu aku tak lagi bertemu dengan Radin, hingga 3 hari kemudian sekolah digemparkan tentang aksi bunuh diri Radin yang loncat dari gedung berlantai 17. Tepat di malam aku mencoba menelponnya, namun tak sekalipun telpon dariku yang diangkat. Aku khawatir.. sore itu Rania melihat Radin bersama dengan segerombolan kakak kelas kami yang bertaraf anarki di sekolah memarkirkan mobil mereka tepat di depan tempat yang tidak seharusnya di kunjungi pelajar SMA. Dan setelah itu ia benar-benar hilang. Hatiku kalut, tak pernah kubayangkan Radin meninggalkanku. Aku tidak dapat berfikir secara jernih, bagaimana aku menjelaskan kepada mama, papa, bahkan orang-orang terdekatku tentang kehadiran Radin kecil dalam kandunganku? Mungkinkah pikiran Radin sama kalutnya atau bahkan lebih kalut dari pada aku, sehingga ia terpaksa mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menghadapi kenyataan ini? Pengecut !! Aku segera pulang kerumah setelah pemakaman usai, membiarkan kesedihan, kekecewaan, kemarahan menyelimutiku. Sahabatku cukup mengerti bagaimana keadaanku. Meskipun mereka tidak benar-benar mengerti apa yang telah terjadi diantara kami. Mereka mencoba menghiburku, tapi aku menolak dan ingin menyendiri di rumah. Rumah sepi, hanya Billy yang sempat melihatku mengangis masuk kamar. Billy satu-satunya orang di rumah yang mungkin peduli denganku, ia mengetok pintu dan berkata dengan suara lugunya,”kaak..kak Lisda kenapa nangis? Kak..”. aku tak menghiraukannya. Aku menangis hingga lelah, menutupi wajahku dengan bantal, hingga obat dan bermacam-macam vitamin untuk Radin kecil keluar dari persembunyiannya di bawah bantal. Keputus asaanku telah menguasai kerja otakku. Ku tenggak habis seluruh obat dan setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi.
Sekarang kusadari betapa lemahnya pikiranku. Aku berjalan menjahui ranjang pada ruangan serba putih itu karena tertarik pada sebuah koran di atas meja. Suatu benda yang meyakinkanku bahawa mungkin ada seseorang yang memperhatikanku dan mungkin juga sekedar menjengukku dalam cukup waktu yang lama. Darah dari tanganku belum juga bisa berhenti hingga tercecer saat aku berjalan. Entah kebetulan atau keajaiban koran tersebut mengulas tentang seorang siswa yang jatuh dari sebuah gedung bank swasta. Sama. Baik waktu dan tempat dimana saat Radin benar-benar meninggalkanku. Aku menyesal begitu membaca kalimat pertama,” 6 siswa SMA pesta miras di atap gedung, menyumbangkan 1 nyawa sebagai hadiah kelulusan”. Air mataku tak dapat di bendung, aku menyesal telah membunuh Radin kecil dengan pikiran bodohku! Radin bukan bunuh diri. Tapi malam itu ia diundang atau lebih tepatnya dipaksa hadir oleh teman-temannya dari kelas XII untuk mengikuti ritual naas itu, karena sebenarnya Radin telah berjanji untuk tidak lagi berteman akrab dengan berandal sekolah tersebut. Mungkin ia dijebak, atau asli kecelakaan. Tubuhku lemas. Tak berdaya. Kudengar suara tangisan bayi dari luar ruangan aku berjalan menuju pintu. Saat kubuka pintu tangisnya perlahan mereda, namun cahaya  yang sangat menyilaukan menerpa mataku. Aku tetap terus berjalan, tubuhku limbung, jatuh, apa? Siapa? Kurasakan tangan hangat itu tak membiarkanku terjatuh. Ia berbisik lembut,” Kenapa kau biarkan Radin kecil menyusulku? Dan kini kamu? “. “Aku mencintaimu..”, ia mengecup keningku dan menuntunku menuju sebuah jalan panjang. Semua putih, Radin berkata,” kita jemput Radin kecil ya? Kamu benar, dia memang Radin kecil. Tampan, seperti aku. Padahal ku fikir dia adalah Lisda kecil yang mungkin tidak terlalu cantik.” Senyumnya mengejekku. Namun aku tak menghiraukannya, aku merindukan Radin kecil kami. Mungkin selanjutnya kami akan menghadap Tuhan untuk meminta maaf atau mungkin menjalankan hukuman kami sebelum mendapatkan Radin kecil kami. Saat itu kami baru sadar bahwa yang kami lakukan bukan cinta, melainkan nafsu belaka. Kebodohan ini telah merenggut masa remaja kami. Mungkin aku dan Radin hanya satu dari ribuan kasus remaja tak bermoral. Sudahlah.. ku doakan Tuhan menyertaimu sobat. Agar kau terlindung dari sekarat moral sepertiku. Kukirimkan pesan ini dari tanah putih, tempat dimana semua terungkap dan abadi.J

Dongeng Kotak Impian



Dua bulan ini, hidup Trivia begitu terasa aneh teman!!..sejak kedaangan Osca murid baru di kelasku. Bukan karena penampilan anak itu yang aneh, tapi sikap anak itu yang benar-benar membuatku seperti bersama balita. Bukannya apa, tapi apa yang ia lakukan ujung-ujungnya selalu dihubungkan dengan cerita khayal dari negri DONGENG yang childish banget. Sayang..ini dunia REAL buakan FAIRY TALE, bangun dari mimpi dong!! Ia bercerita, bahwa sering kali  yang ia alami ada sambungannya dengan dunia dongengnya. Pada awalnya aku tak percaya tapi.. kalian-kalian-kalian pasti inget di luar kepala deh cerita CINDERELA sama sepatu kaca nya itu..!!GOD !! percaya apa nggak.. alkisah gara-gara telat masuk kelas, dia lari-lari, di ujung jalan dia nubruk cowok, sepatunya Osca terlepas, kerena efek sikap balitanya, ia ke kelas tanpa menyadari ia hanya memakai satu sepatu. Entah bagaimana ceritanya, Steve membawakan sepatu Osca ke kelasnya. Steve??. biasa.standar.. nggak cakep, but..!! steve?? what?? bintang lapangan SMA kita kalii, cewe-cewe bisa langsung frozen  di tempat  GRAK gara-gara tatapan matanya yang COOL bgt! But…baru beberapa minggu setelah ADEGAN cinderela itu, gossip beredar, dan mereka JADIAN !! What?? Heran deh.. aku kira cewek kelas atas yang bisa dapetin Steve, ternyata balita ini mampu menakhlukkan hatinya!! Haduu…
Agghh..sihir dongeng itu mulai memberikan muatan listrik pada otakku untuk tertarik masuk di dalamnya, setelah sebuah vonis tentang dongeng kotak impian yang diluncurkan padaku. Ah..sudah!! Aku memandang kotak berukuran 8 x 8 cm tu dan ingin mengenyahkannya dari pandanganku. Tiba-tiba aku teringat akan perkataan Osca saat menyerahkan kotak ini,”vii.. percaya apa nggak, di dongeng kotak impian..apapun yang kamu tulis dalam kotak akan menjadi kenyataan, akhir- akhir ini kulihat kamu murung, jadi kupinjamkan kotak ini, anggap aja kotak impian. Nanti kalau sudah terwujud, aku bisa ambil, pinjem agak lama juga nggak apa apa sih..vii..”. setelah itu Osca pulang, hingga 2 hari ini dia belum masuk sekolah.. padahal hari ini tekatku sudah bulat untuk mengembalikan benda kotak dari negri dongeng ini kepadanya. Hujan mulai menjatuhkan rintiknya. Lamunanku buyar, aku memutuskan untuk segera pulang. Tapi hujan benar-benar tidak bersahabat. Sampai di depan gerbang hujan tidak memberinya sedikit celah untuk pulang,DERES BANGET. Mau tak mau, aku harus balik kanan dan kembali menuju tempat yang teduh. Ada sebuah bangku, dan aku duduk.. saat menikmati hujan tiba-tiba aku teringat akan kotak impian Osca. Pikiran ku benar-benar sakit..hingga aku menulis banyak macam yang aku inginkan di atas selembar kertas. Dan mulai sedikit mempercayai dongeng bodoh itu. Aku menulis permohonan agar hujan reda sampai ngelantur tentang my prince charming. Walaupun hanya ku tuliskan,”Aku sayang dia Tuhan, ku harap sama apa yang kita rasakan.”. bodohnya lagi aku hendak memasukkannya kedalam kotak tersebut, namun tak kudapati kotak impian itu dimanapun.. aku ingat, ternyata masih aku tinggalkan di ruang kelas. Aku berlari, bukan karena mengharap benda konyol itu mewujudkan impian ku. Hanya saja benda bodoh itu bukan punyaku, Osca pasti kecewa kalau tu benda hilang, ehm..mungkin juga bisa pakai alasan..ajaib tu benda, jadi ilang SENDIRI !! Sesampai di kelas untung saja kotak itu masih ada. Aku memasukkan selembar kertas yang berisi permintaan-permintaan bodohku. Hujan tak kunjung reda, kotak ajaib ini juga belum bereaksi dengan hujan. Aku memaki diriku sendiri yang telah coba mempercayai dongeng bodoh itu sambil keluar kelas dan membawa kotak itu namun seseorang berhasil membuat langkahku terhenti karena terpaksa. Kotak di tanganku terjatuh. Tubuhku menabrak seseorang, karena lepas kendali. Yang pertama kusadari adalah setangkai mawar merah yang tergeletak jatuh karena peristiwa tabrakan tadi. “maaf..” ucapnya. Aku mengangkat kepalaku karena tingginya yang melebihiku untuk mengetahui siapa pemilik suara yang sudah begitu familier di telingaku. Deg!!shok!! satu detik..dua detik..tiga detik.. berhenti berdetak..A.R.Z.A!! my prince charming!!  Ia mengambil bunga yang terjatuh tadi,“ Maaf, dari tadi aku mencarimu, sebenarnya bunga ini untukmu. Tapi sekali lagi maaf..sudah jatuh, jadi mungkin nggak pantas kuberikan padamu. Eh..em..bunga ini mungkin sama-sama jatuh, seperti hatiku..ehm? garing ya vii? Maaf lagi ya..percaya apa nggak, gini aja suda nervous tingkat tinggi loh, aku ngerti kamu pintar. Jadi aku rasa kamu bisa ngerti apa maksudku. Jadi gimana sama kamu?”. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Arza bertanya lagi,”maaf ya..tapi apa aku bi-“. Aku menarik bunga yang ia ada di tangannya sehingga ia tidak melanjutkan kata katanya.”Aku juga sangat mengerti kalau kamu lebih pintar dari aku, jadi aku fikir kamu bisa membaca apa yang aku fikirkan.” Aku tersenyum nakal, meninggalkannya dengan langkah perlahan, namun ia mengimbangi langkahku dan berkata,” sangat paham tuan putri…”
Dari kejauhan tampak seorang gadis berpakaian putih berlari membawa kotak impian tersenyum menjauhi Trivia dan Arza, semakin jauh..hingga debu-debu bintang membawanya semakin menghilang,”Bukan masalah REAL atau FAIRY TALE..tapi tentang keyakinan kalian.” Gadis itu tersenyum sebelum benar-benar hilang.

List Cinta Vino


Kenalin, aku Vino, paling benci : kalo disuhruh nunggu, paling jijik : sama banci, pecinta manga dan anti novel lebay bombay, umur : 18 taon lebih 2 bulan, status : PDKT sama adek kelas yang bapaknya tukang gali emas, pernah pacaran : lupa berapa kali, diputus cewek : 5 kali ( seinget aku ), digampar cewek : 11 kali, ditolak cewek : nggak pernah ( keren kan? ), tinggi : 175 cm, kulit : bersih bin kinclong, wajah : cakep abis rada western gitu( soalnya bokap rada bule juga, abis nenek aku pernah selingkuh sama bule amerika terus tiba – tiba  hamil tiga bulan dan perutnya berisi bokap aku ) sedikit bersyukur atas selingkuhnya nenek aku deh! Warna mata : coklat, warna rambut : coklat. So.. pastinya para cewek nggak akan ada alasan buat nolak aku.
            Oke.. dari dulu udah biasa dibilang playboy, tapi sebenernya aku bukan playboy, cuma sering ganti cewek sih. Sumpah aku setia banget nggak akan cari lagi bahkan coba untuk cari lagi sebelom hubungan aku sama cewek aku putus. Rada gemes kalo lihat cewek punya rambut panjang, nggak tau juga sih..ya kayaknya udah jadi syarat di jidat aku kalo cewek punya rambut panjang itu beda. Jadi inget sama cinta ingusan aku waktu masih TK, masih jadi tukang ngompol gitu aku udah berani suka sama temen sekelas aku. Namanya Sesha.. rambutnya item, tebeel, panjang ( nggak panjang – panjang amat sih ), rambutnya pasti di kuncit dua, pipinya chubby abis deh. Waktu TK sih aku belom berani – berani amat, ya.. buat narik perhatian Sesha, aku sering sembunyiin barangnya gitu.. terus ntar aku dikejar sama dia, terus kelas jadi rame, bu guru marah deh, akhirnya kita dihukum nyanyi di depan kelas sama saling minta maaf . seneeeng bangeet deh rasanya waktu jabatan tangan ! yah.. emang cinta ingusan.. jadi gitu doang udah bahagia.
            Waktu SD aku juga pernah dapet hukuman gara – gara cinta monyet ku. Waktu itu kelas 2 SD, aku duduk di bangku nomor 3, Rara duduk tepat di depan bangku ku. Rambutnya indah, panjang.. dia paling suka rambutnya di kuncit ekor kuda. Untuk menarik perhatiannya aku sering tarik – tarik rambutnya sampe dia ngedumel, terus gebug-in aku pake penggaris. Tapi aku suka banget waktu dia marah. Mukanya jadi tomat deh, udah bunder, merah , mana poninya yang dipotong di atas alis buat dia tambah nge-gemesin. Suatu hari usai jam olahraga, kelas lagi kosong, teman – teman lagi sibuk di kantin. Haha.. Rara tambah manis aja, dia senyum sama aku, terus aku deket-in dia. Nggak ngerti kena setan mana tiba – tiba bibirku sudah mendarat di pipinya. Muka Rara merah banget, dia diyem tanpa reaksi. Apa dia bakal marah ya ? Oke.. tapi aku bingung juga setelah ini apa yang aku lalukan. Muka ku mulai ikut merah ! Tuhan ! apa yang sudah aku lakukan ? What !! Akhirnya Rara berlari keluar. Dalam hati aku senaang sekali, sepertinya Rara juga suka padaku. Soalnya dia nggak marah, apalagi nimpuk-in aku pake penggaris . Tapi kebahagiaan ku terhenti ketika seorang teman ku sekelas menyampaikan sebuah pesan dari ibu guru yang ujung – ujungnya aku diminta menemui beliau! Sial! Sepertinya ada yang melihatku dengan Rara dan mengadukannya pada bu guru. Saat aku berjalan menuju ruang guru beberapa cewek centil yang masih ingusan melihatku dan sedikit tertawa. Sial! Aku ngerti deh sekarang pelakunya! Ternyata Rara sudah dipanggil dulu, ketika aku akan masuk dia keluar. Mukanya merah, ia menunduk. Saat melihatku tiba ia melayangkan tangannya dan mendaratkan sebuah pukulan tepat di pipiku. Plaaak !! Kemudian ia berlari sambil menutup wajah dengan kudua tangannya. Aku sangat merasa bersalah padanya, aku menerima hukumanku. Namun setelah itu Rara tidak mau lagi berbicara padaku. Ini pertama kali aku ditampar. Oh cinta monyetku yang tragis.. L tapi saat hari kelulusan tiba, dimana aku dan teman – teman sekelasku harus pisah, dia kasih aku gantungan kunci boneka jerapah. Terus, kaga tau abis itu dia ilang~cling~ kayak ditelen jerapah! Temen – temen bahkan nggak tau abis itu dia diterima di SMP mana. Udah deh kandas.
            Karena mungkin trauma  atau terkena syndrome semacamnya, aku tidak terlalu berani lagi dengan wanita. Bukan berarti saat di bangku SMP aku bersekutu dengan makhluk indah yang bernama wanita. Setelah tragedi cinta malu – malu jerapah, aku jadi nggak lagi agresif sama cewek, kebanyakan mereka yang nembak duluan. Biasa lah..over cakep. Well, aku pernah pacaran dengan anak jago basket, bahkan saat putus aku berhasil dibuatnya mimisan karena shooting sempurna yang sengaja di sasarkan ke wajahku. Kurang macho gimana coba ?Pernah pacaran sama anak yang ortunya jualan bakso, sering banget dapet bakso gratis waktu pura – pura belajar bareng di rumanya. Pernah juga pacaran sama Revita yang direbutin cowok – cowok, tapi kalo ini aku yang nembak. Bahkan  sampe pacaran sama piala bergilir yang sangat serba guna, bisa jadi ojek, jadi dompet dan terima servis. Jangan mikir jelek ah.. dia kok yang mau sama aku, well,jadi sebenernya aku nggak ada niat matre, dia aja yang kasih free apalagi plus servis, bukan cowok munafik juga sih, jadi pengakuan ini aku tulis nggak pake sensor, maaf ya pembaca.. mmh.. denger musik waktu berangkat sekolah gini emang sering bikin pikiran mellow. O ia..sekolah aku dekeet banget sama rumah, jadi ya gini kudu jalan kaki biar sehat + irit + hemat kata nyokap.
            Masuk gerbang sekolah ayeem banget. Pentolan gank jahanam sudah binasa. Hahaha.. nggak akan ada adek kelas yang digencet di kamar mandi, dipalak-in. Banyak dari siswa SMA Pelita Nusantara merasa bahagia sejahtera. Terutama kaum perempuan yang cantik - cantik. Gosipnya nih ya.. 1 bulan yang lalu pentolan gank paling rese’ satu sekolah abis kecelakaan yang mengakibatkan korban hilang ingtan. Sebelumnya moster cewek ini sudah kelewat bates jadi manusia, hobi nge-langgar peraturan, demen bolos, pernah ke-gep guru waktu smoke dan hobi nge-gencet adek kelas cantik, bahkan palak-in mereka. Parah deh ! orangtuanya yang sebenernya sayang banget sama dia tu sampe kewalahan ngatur dia. Ya.. mumpung hilang ingatan gini ortunya nyulap Irene jadi cewek aliim banget. Gosipnya orangtua Irene sengaja nggak nge-inget-in keadaan Irene sebelumnya, jadi mereka kayak ngajarin Irene dari nol. Ya.. emang berhasil, sekarang Irene bener – bener beda, jadi rajin belajar, seragamnya jadi sopan ( kaga kayak dulu yang seragamnya mirip baju manusia purba huba huba yang minim abis )beda deh ! Ya.. mungkin juga bantuan dua temen gank nya di keluarin gara – gara hamil and ketahuan nge-drugs, yang satu mati gara – gara kecelakaan bareng Irene, dan sisanya yang satu lagi nggak berhasil buat ngehasut Irene balik ke jalan setan. Sekarang beda, charming nya jadi keluar, aku juga baru sadar kalo rambutnya panjang, ikal, item, tinggi, manis.. sempurna. Hehe.. naluri lekong aye jadi keluar bang broo !! Tapi.. jadi kasian sama Dennis. Dia cowok Irene kira - kira 1 tahun belakangan. Jelas banget Irene nggak inget siapa Dennis. Saat mereka pacaran tuh, gosip anget muncul, apalagi dari cewek – cewek rumpis. “Dennis itu ketua OSIS di sekolah kita! Mana mungkin jatoh cinta sama ketua gank brandal? “ ada lagi yang bilang,” emang Dennis bego apa buta ? jelas – jelas stok cewek cantik yang waras, high quality kayak aku masih banyak bercecer ! “ ada lagi yang  ngomong,” ya..emang cinta nggak pandang status.. “. Dan masih banyak versi lainnya..
            Bel belom bunyi juga, jadi masih ada waktu buat cerita – cerita masalah tadi. Sebenernya Irene pernah masuk list cinta aku, tapi sesuai yang aku bilang dari awal, aku tu nggak playboy, jadi nggak ada niat buat rebut dia dari Dennis. Belom lagi dia pernah nge-gap + malak cewek aku (waktu kelas X) jadi ada dendam ketumbar deh! Nah..karena sudah bel masuk. Aku masuk kelas dulu, pelajaran nih pembaca ! ntar aku cerita lagi.. eh.. Irene lewat. J eh..coba deh kamu ikut liat dia, manis kan?
            Waktu pulang sekolah tiba, aku ada janji buat ngajarin Arsita. Itu lo.. cewek manis yang rambutnya item, matanya 2, warnanya item, idungnya 1, mancung pisan, rada oriental gitu deh, yang jelas rambutnya panjang terurai, itu lo..yang adik kelas aku, yang bapaknya tukang gali emas. Inget ? baca di paragraph pertama deh kalo lupa! Merupakan keturunan dari nyokap kalo otak aku tuh brilian. Setelah acara ngajarin Arsita yang bermodus PDKT sudah selesai. Akhirnya aku pulang. Sebenernya Arsita nawarin buat  nganter pulang. Tapi karena udah sore dan karena biar dibilang keren dan karena dalam rangka tebar pesona akhirnya aku bilang, “nggak usah deh Sit..kayaknya udah sore juga. Aku bisa pulang sendiri, kan deket. Lagian nggak baik cewek pulang sore – sore. “ Nurut dah tu cewek. Sebelum pulang dia ngomong,”makasih ya kak.. nggak apa – apa kok, lagian aku dijemput cowok aku kok, jadi mama mesti percaya. Kakak harusnya kenalan sama dia deh, kayaknya kalian berdua bakal cocok. Dia juga suka banget sama manga, kan bisa saling minjem.”  Apa? Cowok aku? E? Udah deh gigi aku hacur! Sial.. cewek imut ini kok kaga bilang kalo udah punya cowok! Udah deh akirnya aku Cuma ngangguk – ngangguk buat basa – basi doang. Huaahm.. aku cepet – cepet jalan buat pulang. Masih sebel, panas deh otak, mana perut laper. Pas mau nyebrang, tiba – tiba ada yang narik ujung seragam aku. Huah.. ternyata Irene si moster yang lagi jinak. Kenapa ya sore –sore gini dia masih kepajang di sekolah? Seperti membaca pikiran aku, dia bilang,” maaf, bisa aku minta tolong? Hari ini mama nggak bisa jemput aku, kamu ngerti kan aku hilang ingatan? Aku nggak hafal jalan pulang, hp aku mati abis terakhir mama telpon aku, aku udah nunggu dari pulang sekolah tadi, tapi nggak ada yang aku minta-in tolong.” Aku ikut bingung,” hafal nomor hp mama kamu? Irene menggelengkan kepala. Sumpah bingung deh.. sampe lupa kalo tadi abis patah hati. Oke.. rasional dikit deh ! cewek nggak cuma satu boy ! aku diyem bingung, pegang jidat sama garuk – garuk kepala. Secara logika, kita pulang jam 2 siang, sekarang jam 4, ni cewek hebat banget kaga laper. Sumpah deh, aku aja laper. ”mmh..maaf, tapi dari badge yang kamu pake aku pikir kita satu angkatan, aku kira kamu kenal aku. Dan aku pikirnya lagi kamu tau rumah aku.” Dia memecah keheningan. Mau di tinggal kasian, tapi aku nggak tau rumah dia juga, mana anaknya nggak inget. Intinya kami berdua kayak orang bego di depan sekolah. Akhirnya muncul kalimat di mulut aku,”kita makan aja yuk” J
            Karena si moster manis tadi setuju aja, jadi kami ke warung depan sekolah. Buset..lahap banget ! pantes aja semangat waktu di ajak makan. Sial ! pake hujan gitu di luar, mana tambah adem. Untung bawa jaket deh. Akhirnya setelah kami kenyang, aku nganter dia buat cari rumahnya. Kita berteduh di halte bus. Aku memutar otak biar bisa balikin nih moster pulang sebelom dia bermetamorfosis jadi galak lagi. Tiba – tiba Irene narik kenceng jaket aku.”aku mau ini.. boleh pinjem? Dingin tauk.” Wajahnya kucel banget, disertai bersin – bersin. Akhirnya aku copot jaket anget aku, dasar, nih cewek emang punya bakat malak ya? Pake cara bentak – bentak ato halus gini si korban tetep nurut kayak aku gini.” Ren.. kamu mau ikut pulang aku dulu? Aku janji deh anter kamu pulang. Paling nggak aku bisa ambil hape aku yang dirumah, aku bakal cari info rumah kamu lewat temen – temen aku, ato hape kamu bisa di charge dirumah aku terus kamu telpon mama kamu.” Si moster akhirnya nurut. Aneh deh.. kayak percaya banget sama aku. Huaa pengen foto in Irene, lucu banget deh pake jaket ke-gede-an gini mana rambutnya rada basah kena ujan. Barang kali waktu dia ngamuk bisa reda gara – gara lihat foto jinaknya.
            Sesuai dengan prediksi aku, nyokap siap dengan ribuan pertanyaan. Ok mom, I’ll tell it later ! Irene duduk di ruang tamu rumah aku, polos banget face nya. Nyokap nemenin dia ngobrol, kayaknya nyokap bakal ngerti apa yang terjadi sama cewek konslet itu. Aku minta nomor HP Dennis sama temen aku yang juga anak OSIS, emang mestinya Dennis tau rumah Irene. Bla..bla..bla..dan aku dapet alamatnya. Fiuuh.. lega deh ! mandi sekalian, dan aku segera turun buat nganter Irene. Aku pamit nyokap. Sebagai cowok pintar yang masih peduli sama moster, aku kasih pinjem jaket aku yang masih kering. Jadi yang rada basah tadi di balik-in ke aku. Belom sempet keluarin mobil, ujan – ujan gini Dennis udah di depan rumah aku. Wajahnya pasrah, menuju ke arah Irene,” kamu aku anter pulang ya? Ren.. sampe kapan kamu nggak percaya kalo aku cowok kamu?” ujan gini, pantes banget romance setting nya kayak di cerpen – cerpen gitu. “ udah deh, mama aku sendiri yang bilang, sebelom aku hilang ingatan juga aku nggak pernah punya cowok ! jadi sampe kapanpun aku nggak punya cowok kayak kamu! Ayolah..jangan manfaatnin keadaan ku yang lupa ini !” Sedih banget wajah Dennis,”oke..cukup, dari pada kamu inget aku dan tentunya bakal inget masa lalu kamu. Memang seharusnya aku ikhlas ngelepas kamu.” Irene cuek masuk ke mobilku dan mengabaikan Dennis. “ maaf, tapi aku nggak ngerti kalo kamu ikut terhapus dari memori nya. Mungkin waktu yang akan mengembalikan kalian, semoga Irene lekas sembuh. Aku anter Irene dulu ya.”kataku menghiburnya.” Biar dia lupa aja. Aku lebih suka Irene yang sekarang. Aku nitip dia ya..aku anter ke rumah Irene deh, tinggal ikutin mobil aku. Dari pada kalian kemalaman cari alamat rumah.” Aku pun menyetujui sarannya.
            Sebenernya malam itu Dennis ikutan mampir ke rumah Irene buat ngomong sesuatu sama ortu Irene. Irene sendiri udah ngiler tak sadarkan diri di mobil aku. Jadi gosip selama ini bener, ortu Irene sayang banget sama dia. Papa Irene sendiri yang gendong Irene masuk biar dia kaga bangun. Seusai Dennis pulang aku diintrogasi. Ditanya ini itu. Mereka khawatir banget kalo ternyata aku temen lama Irene yang bawa hawa siluman gitu. Jah..dari curhat ortu Irene semalem, ternyata mereka berniat ngehapus semua yang bikin inget hidup Irene yang dulu. Meski ternyata Dennis nggak termasuk golongan siluman ular polkadot, otru nya tetep beresikeras melarang Dennis melanjutkan hubungan mereka. Dan pagi ini aku udah dapet surprise berhadiah dari acara semalem. Irene nongol di depan rumah aku jam setengah tuju tet tet tet bareng papa nya yang kasi senyum yang bisa diartikan”NITIP ANAK GUE”. Bilangnya sih Irene pengen berangkat sekolah bareng, yah.. aku pikir sehari aja,ternyata  48 hari terhitung hari ini kaga stop juga.
            Singkat cerita, Irene tambah deket sama aku. Ortu Irene berhasil bikin aku jadi baby sitter buat anak gadis manisnya yang sebenernya moster. Keadaan ini secara tidak langsung bikin Irene jadi deket sama aku. Dennis sendiri enggan berpaling, kita juga makin deket gara – gara sering tanya – tanya tentang Irene. Tapi seiring berjalannya waktu, tatapan matanya tak seindah biasanya. To the point aja deh pembaca. Dia cemburu. Situasi di sekolah berbalik, gosip tidak senonoh berhasil membuat rating aku meningkat. Kedekatanku dengan Irene menimbulkan konflik bantin rasa kacang ijo. Gimana kaga, jidat Dennis yang bertuliskan’’AKU CEMBURU” tadi berhasil bikin cewek – cewek mengambil kesimpulan : Aku ngerebut Irene dari Dennis, faktanya : keadaan yang bikin Irene tambah nempel aku. Keadaan adik kelas aku yang bapaknya tukang gali emas itu tetep langgeng aja sama pacarnya. Arsita tetep deket sama aku buat share tentang pelajaran. Meski perasaan demen nya udah ilang tapi tetep gemes aja pengen nonjok sesuatu waktu lihat tuh cewek oriental bareng pacarnya. Balik lagi ke Irene, selama ini kita emang sering makan, nonton, jalan, ato apalah yang mungkin orang – orang sebut ini nge-date. Tapi jujur aku nggak perna berasa cinta. Suatu malem pernah Dennis ngajak ngobrol berdua. Sebagai cowok yang gentle akhirnya dia ikhlas kalo aku jadi sama Irene. Dan sebagai cowok yang gentle juga, akhirnya aku ngaku kalo selama ini nggak pernah ada kata cinta, bahkan aku nggak pernah ngerasa. Meski sejujurnya aku pernah cium pipi tuh moster manis waktu jalan yang ke 19. Abis dia manis banget pake dress warna soft blue sama bandana dengan warna senada di kepalanya.Tapi rasanya beda. Kamu tau kan pembaca L Irene sendiri nggak pernah bilang kalo sayang apalagi cinta. Jadi aku pikir kita fine aja jalanin hubungan yang nggak jelas ini. Oke, kita emang deket. Maaf ralat, munkin tepatnya deket banget. Tapi nggak pernah ada ikatan diantara kita. Ortu Irene seneng banget. Setelah percakapan antar lelaki tempo hari, esoknya Dennis udah boncengin cewek yang nggak begitu cantik tapi tajir. She is Predita.
            Akhir cerita, kemaren Irene dateng ke rumah aku ngamuk – ngamuk, aku sendiri nggak begitu ngerti maksudnya, soalnya dia kayak nggak sadar gitu. Yang sedikit jelas cuma waktu dia bilang,”kenapa kamu ikutan orang tua aku?” terus dia teriak –teriak lagi nyangkut – nyangkut Dennis. Aku udah coba tenangin dia tapi nihil. Akhirnya mulutnya yang kayak petasan berhasil reda setelah diseret pergi 2 temennya. Yang wajahnya nggak asing lagi. Sial! Aku menemui mama Irene saat itu juga. Hasilnya : Ingatan Irene sudah balik. Ya.. ternyata tuh moster udah balik ke alamnya. Karena arwah 2 temennya yang masih semangat gantayangan. Irene pun menghilang dan tak pernah nampak di sekolah. Pastinya ortu Irene sedih banget. Kalo udah sendiri di rumah gini kadang – kadang jadi inget moster manis itu waktu masih jinak. Ternyata dia sering juga maen kesini. Bikin kangen aja tauk. Aku jadi senyum – senyum sendiri deh. Di list cinta aku, saat ini masih kosong. Status saat ini juga masih jomblo, nggak ada Arsita apalagi Irene. Mungkin nunggu tetangga aku aja 3 taon lagi buat dipacarin. Bukan apa – apa sih, cantik iya, baik iya, cuma taon ini rambutnya masih pendek. Tau kan aku paling gemes sama cewek punya rambut panjang ?